Senin, 19 Januari 2015

STRES DAN KONFLIK DALAM MANAGEMENT

Diposting oleh Unknown di 01.27 0 komentar


OKTIVIANI
3 PA 08
15512588

STRES

Pengertian Stres
Stres ialah suatu kondisi ketegangan fisik ataupun psikis yang mempengaruhi emosi, proses berfikir dan kondisi seorang karyawan dan juga merupakan perasaan tertekan yang dialami karyawan dalam menghadapi pekerjaan.

Penyebab Stres
·         Beban kerja yang dirasakan terlalu berat
·         Waktu kerja yang mendesak
·         Kualitas pengawasan kerja yang rendah
·         Iklim kerja yang tidak sehat
·   Otoritas kerja yang tidak memadai yang berhubungan dengan tanggung jawab
·         Konflik kerja

Cara Mengatasi Stres Kerja
Terdapat tiga pola dalam mengatasi stres, yaitu:
·         Pola sehat, menghadapi stres dengan kemampuan mengelola perilaku dan tindakan sehingga stres tidak menimbulkan gangguan, akan tetapi menjadi lebih sehat dan berkembang.
·         Pola harmonis, menghadapi stres dengan kemampuan mengelola waktu dan kegiatan secara harmonis dan tidak menimbulkan berbagai hambatan. Dalam pola ini, individu mampu mengendalikan berbagai kesibukan dan tantangan dengan cara mngatur waktu secara teratur.
·         Pola patalogis, menghadapi stres dengan berdampak berbagai gangguan fisik maupun social-psikologis.

KONFLIK

Pengertian Konflik
Konflik adalah pertentangan yang terjadi antara apa yang diharapkan oleh seseorang terhadap dirinya, orang lain, organisasi dengan kenyataan apa yang diharapkannya.
Konflik dapat berupa perselisihan, adanya ketegangan, atau munculnya kesulitan-kesulitan lain di antara dua pihak atau lebih. Konflik sering menimbulkan sikap oposisi antara kedua belah pihak, sampai kepada tahap di mana pihak-pihak yang terlibat memandang satu sama lain sebagai penghalang dan pengganggu tercapainya kebutuhan dan tujuan masing-masing.
Konflik kerja terbagi atas dua jenis, yaitu:
·         Subtantive conflicts, perselisihan yang berkaitan dengan tujuan kelompok, pengalokasian sumber daya dalam suatu organisasi, distribusi kebijaksanaan dan prosedur, dan pembagian jabatan pekerjaan.
·         Emotional conflicts, terjadi akibat adanya perasaan marah, tidak percaya, tidak simpatik, takut dan penolakan, serta adanya pertentangan antar pribadi.

Jenis – Jenis Konflik Kerja
Menurut James A.F. Stoner dan Charles Wankel dikenal ada lima jenis konflik yaitu:
a.    Konflik Intrapersonal
Konflik seseorang dengan dirinya sendiri. Konflik terjadi bila pada waktu yang sama seseorang memiliki dua keinginan yang tidak mungkin dipenuhi sekaligus.
b.    Konflik Interpersonal
Pertentangan antar seseorang dengan orang lain karena pertentengan kepentingan atau keinginan. Hal ini sering terjadi antara dua orang yang berbeda status, jabatan, bidang kerja dan lain-lain.
c.    Konflik antar individu-individu dan kelompok-kelompok
Hal ini seringkali berhubungan dengan cara individu menghadapi tekanan-tekanan untuk mencapai konformitas, yang ditekankan kepada mereka oleh kelompok kerja mereka.
d.   Konflik antara kelompok dalam organisasi yang sama
Konflik yang banyak terjadi di dalam organisasi-organisasi. Konflik antar lini dan staf, pekerja dan pekerja.
e.    Konflik antara organisasi
Konflik ini biasanya disebut dengan persaingan. Konflik ini berdasarkan pengalaman ternyata telah menyebabkan timbulnya pengembangan produk-produk baru, teknologi baru dan servis baru, harga lebih rendah dan pemanfaatan sumber daya secara lebih efisien.

Cara dan Strategi dalam mengatasi Konflik Kerja
a.    Pemecahan masalah (Problem solving)
b.    Tujuan tingkat tinggi (Lipsordinate Goal)
c.    Perluasan sumber (Expansion of Resources)
d.    Menghindari konflik (Avoidance)
e.    Melicinkankan konflik (Smoothing)
f.     Kompromi (Compromise)
g.    Perintah dari wewenang ( Authoritative Commands)
h.    Mengubah variabel manusia (Alteringthe Human Variables)
i.     Mengubah varabel structural (Altering the Structural Variables)
j.     Mengidentifikasi musuh bersama (Indetifying a Common Enemy)

Serta terdapat beberapa strategi dalam menangani dan menyelesaikan konflik, yaitu:
a.    Menghindar
Menghindari konflik dapat dilakukan jika masalah yang memicu konflik tidak terlalu penting. Penghindaran merupakan strategi yang memungkinkan pihak-pihak yang berkonfrontasi untuk menenangkan diri.
b.    Mengakomodasi
Memberi kesempatan pada orang lain untuk mengatur strategi pemecahan masalah, khususnya apabila isu tersebut penting bagi orang lain. Hal ini memungkinkan timbulnya kerjasama dengan memberi kesempatan pada mereka untuk membuat keputusan.
c.    Kompromi atau Negosiasi
Masing-masing memberikan dan menawarkan sesuatu pada waktu yang bersamaan, saling memberi dan menerima, serta meminimalkan kekurangan semua pihak yang dapat menguntungkan semua pihak.
d.   Memecahkan Masalah atau Kolaborasi
Pemecahan sama-sama menang dimana individu yang terlibat mempunyai tujuan kerja yang sama, perlu adanya satu komitmen dari semua pihak yang terlibat untuk saling mendukung dan saling memperhatikan satu sama lainnya.

Sumber :



Minggu, 11 Januari 2015

CONTROL DALAM MANAGEMENT

Diposting oleh Unknown di 23.13 0 komentar


OKTIVIANI
3 PA 08
15512588

DEFINISI CONTROL DALAM MANAGEMENT

Control (Pengendalian) merupakan salah satu fungsi manajerial seperti perencanaan, pengorganisasian, pengaturan staff, dan mengarahkan. Mengendalikan merupakan fungsi penting karena membantu untuk memeriksa kesalahan dan mengambil tindakan korektif sehingga meminimalkan penyimpangan dari standar dan mengatakan bahwa tujuan organisasi telah tercapai dengan cara yang baik.

Menurut Robert J. Mockler, control dalam management merupakan upaya sistematis oleh manajemen bisnis untuk membandingkan kinerja dengan standar yang telah ditentukan, rencana, atau tujuan untuk menentukan apakah kinerja sejalan dengan standar tersebut dan mungkin untuk mengambil tindakan perbaikan yang diperlukan untuk melihat bahwa manusia dan sumber daya perusahaan lainnya yang digunakan dengan cara yang paling efektif dan efisien mungkin dalam mencapai tujuan perusahaan.

TUJUAN ADANYA CONTROL (PENGENDALIAN)

Tujuan utama dari pengendalian adalah untuk mencegah adanya penyimpangan atau setidaknya memperkecil kesalahan yang mungkin akan terjadi. Sehingga tujuan yang telah ditetapkan  dapat tercapai dengan baik.

ELEMEN DASAR DALAM SISTEM PENGENDALIAN

1.     Karakteristik atau kondisi yang akan dikontrol
Karakteristik berupa output dari sistem dalam tahap pemrosesan atau  suatu kondisi yang merupakan hasil dari sistem.
2.    Sensor
Sarana untuk mengukur karakteristik atau kondisi. Sebagai contoh dalam sistem kontrol pengukuran kualitas dapat diandaikan oleh inspeksi visual dari produk.
3.    Komparator
Menentukan kebutuhan koreksi dengan membandingkan apa yang terjadi dengan apa yang telah direncanakan. Beberapa penyimpangan dari rencana adalah biasa dan diharapkan, tetapi ketika berada di luar variasi yang dapat diterima tindakan korektif diperlukan. Ini melibatkan semacam tindakan pencegahan yang menunjukkan bahwa kontrol yang baik sedang dicapai.
4.    Aktivator
Tindakan korektif untuk mengembalikan sistem ke output yang diharapkan. Contohnya adalah seorang karyawan diarahkan ulang untuk bagian-bagian yang gagal lulus pemeriksaan mutu. Selama rencana dilakukan dalam batas-batas yang diijinkan tindakan korektif tidak diperlukan.

PRINSIP-PRINSIP PENGENDALIAN

1.     Pengawasan yang dilakukan oleh pimpinan harus dimengerti oleh staf dan hasilnya mudah diukur. Misalnya tentang waktu dan tugas-tugas pokok yang harus diselesaikan oleh staf.
2.    Fungsi pengawasan harus difahami pimpinan sebagai suatu kegiatan yang sangat penting dalam upaya mencapai tujuan organisasi.
3.    Standar unjuk kerja harus dijelaskan kepada seluruh staf karena kinerja staf akan terus dinilai oleh pimpinan sebagai pertimbangan untuk memberikan reward kepada mereka yang dianggap mampu bekerja.

MANFAAT PENGENDALIAN DALAM MANAGEMENT

a)    Dapat mengetahui sejauh mana program sudah dilakukan oleh staf, apakah sesuai dengan standar atau rencana kerja, apakah sumberdaya telah digunakan sesuai dengan yang telah ditetapkan.
b)   Dapat mengetahui adanya penyimpangan pada pemahaman staf dalam melaksanakan tugas-tugasnya.
c)    Dapat mengetahui apakah waktu dan sumber daya lainnya mencukupi kebutuhan dan telah dimanfaatkan secara efisien.
d)   Dapat mengetahui sebab-sebab terjadinya penyimpangan.
e)   Dapat mengetahui staf yang perlu diberikan penghargaan, dipromosikan atau diberikan pelatihan lanjutan.

PENTINGNYA PENGENDALIAN DALAM SEBUAH MANAGEMENT
 
1.     Perubahan lingkungan organisasi
Berbagai perubahan lingkungan organisasi yang terjadi terus-menerus dan tak dapat dihindari, seperti munculnya inovasi produk dan pesaing baru maka melalui pengawasan lah dapat mendeteksi perubahan yang berpengaruh pada barang dan jasa organisasi sehingga mampu menghadapi tantangan atau memanfaatkan kesempatan yang diciptakan perubahan yang terjadi.
2.    Peningkatan kompleksitas organisasi
Semakin besar organisasi, makin memerlukan pengawasan yang lebih formal dan hati-hati. Berbagai jenis produk harus diawasi untuk menjamin kualitas dan profitabilitas tetap terjaga. Semuanya memerlukan pelaksanaan fungsi pengawasan dengan lebih efisien dan efektif.
3.    Meminimalisasikan tingginya kesalahan-kesalahan
Bila para bawahan tidak membuat kesalahan, manajer dapat secara sederhana melakukan fungsi pengawasan. Tetapi kebanyakan anggota organisasi sering membuat kesalahan. Sistem pengawasan memungkinkan manajer mendeteksi kesalahan tersebut sebelum menjadi kritis.
4.    Kebutuhan manager untuk mendelegasikan wewenang
Bila manajer mendelegasikan wewenang kepada bawahannya tanggung jawab atasan itu sendiri tidak berkurang. Satu-satunya cara manajer dapat menen-tukan apakah bawahan telah melakukan tugasnya adalah dengan mengimplementasikan sistem penga-wasan.
5.    Menilai informasi dan mengambil tindakan koreksi
Langkah terakhir adalah pembandingan penunjuk dengan standar, penentuan apakah tindakan koreksi perlu diambil dan kemudian pengambilan tindakan.

Jadi suatu organisasi akan berjalan semakin baik dari waktu ke waktu bila setiap orang yang bersangkutan dapat mengevaluasi atas hasil kegiatan yang telah dilakukan, inilah yang membuat fungsi pengendalian atau pengawasan semakin penting dalam setiap organisasi. Tanpa adanya pengendalian atau pengawasan yang baik tentunya akan menghasilkan tujuan yang kurang memuaskan, baik bagi organisasinya itu sendiri maupun bagi para pekerjanya.

Sumber     :

Richard Arvid Johnson (1976). Management, systems, and society : an introduction. Pacific Palisades, Calif.: Goodyear Pub. Co. pp. 148–142. Dari: http://en.wikipedia.org/wiki/Control_%28management%29, 24 November 2013

Samuel Eilon (1979). Management control. Boston, Mass.: Harvard Business School Press. Dari: http://en.wikipedia.org/wiki/Control_%28management%29, 24 November 2013


Senin, 19 Januari 2015

STRES DAN KONFLIK DALAM MANAGEMENT



OKTIVIANI
3 PA 08
15512588

STRES

Pengertian Stres
Stres ialah suatu kondisi ketegangan fisik ataupun psikis yang mempengaruhi emosi, proses berfikir dan kondisi seorang karyawan dan juga merupakan perasaan tertekan yang dialami karyawan dalam menghadapi pekerjaan.

Penyebab Stres
·         Beban kerja yang dirasakan terlalu berat
·         Waktu kerja yang mendesak
·         Kualitas pengawasan kerja yang rendah
·         Iklim kerja yang tidak sehat
·   Otoritas kerja yang tidak memadai yang berhubungan dengan tanggung jawab
·         Konflik kerja

Cara Mengatasi Stres Kerja
Terdapat tiga pola dalam mengatasi stres, yaitu:
·         Pola sehat, menghadapi stres dengan kemampuan mengelola perilaku dan tindakan sehingga stres tidak menimbulkan gangguan, akan tetapi menjadi lebih sehat dan berkembang.
·         Pola harmonis, menghadapi stres dengan kemampuan mengelola waktu dan kegiatan secara harmonis dan tidak menimbulkan berbagai hambatan. Dalam pola ini, individu mampu mengendalikan berbagai kesibukan dan tantangan dengan cara mngatur waktu secara teratur.
·         Pola patalogis, menghadapi stres dengan berdampak berbagai gangguan fisik maupun social-psikologis.

KONFLIK

Pengertian Konflik
Konflik adalah pertentangan yang terjadi antara apa yang diharapkan oleh seseorang terhadap dirinya, orang lain, organisasi dengan kenyataan apa yang diharapkannya.
Konflik dapat berupa perselisihan, adanya ketegangan, atau munculnya kesulitan-kesulitan lain di antara dua pihak atau lebih. Konflik sering menimbulkan sikap oposisi antara kedua belah pihak, sampai kepada tahap di mana pihak-pihak yang terlibat memandang satu sama lain sebagai penghalang dan pengganggu tercapainya kebutuhan dan tujuan masing-masing.
Konflik kerja terbagi atas dua jenis, yaitu:
·         Subtantive conflicts, perselisihan yang berkaitan dengan tujuan kelompok, pengalokasian sumber daya dalam suatu organisasi, distribusi kebijaksanaan dan prosedur, dan pembagian jabatan pekerjaan.
·         Emotional conflicts, terjadi akibat adanya perasaan marah, tidak percaya, tidak simpatik, takut dan penolakan, serta adanya pertentangan antar pribadi.

Jenis – Jenis Konflik Kerja
Menurut James A.F. Stoner dan Charles Wankel dikenal ada lima jenis konflik yaitu:
a.    Konflik Intrapersonal
Konflik seseorang dengan dirinya sendiri. Konflik terjadi bila pada waktu yang sama seseorang memiliki dua keinginan yang tidak mungkin dipenuhi sekaligus.
b.    Konflik Interpersonal
Pertentangan antar seseorang dengan orang lain karena pertentengan kepentingan atau keinginan. Hal ini sering terjadi antara dua orang yang berbeda status, jabatan, bidang kerja dan lain-lain.
c.    Konflik antar individu-individu dan kelompok-kelompok
Hal ini seringkali berhubungan dengan cara individu menghadapi tekanan-tekanan untuk mencapai konformitas, yang ditekankan kepada mereka oleh kelompok kerja mereka.
d.   Konflik antara kelompok dalam organisasi yang sama
Konflik yang banyak terjadi di dalam organisasi-organisasi. Konflik antar lini dan staf, pekerja dan pekerja.
e.    Konflik antara organisasi
Konflik ini biasanya disebut dengan persaingan. Konflik ini berdasarkan pengalaman ternyata telah menyebabkan timbulnya pengembangan produk-produk baru, teknologi baru dan servis baru, harga lebih rendah dan pemanfaatan sumber daya secara lebih efisien.

Cara dan Strategi dalam mengatasi Konflik Kerja
a.    Pemecahan masalah (Problem solving)
b.    Tujuan tingkat tinggi (Lipsordinate Goal)
c.    Perluasan sumber (Expansion of Resources)
d.    Menghindari konflik (Avoidance)
e.    Melicinkankan konflik (Smoothing)
f.     Kompromi (Compromise)
g.    Perintah dari wewenang ( Authoritative Commands)
h.    Mengubah variabel manusia (Alteringthe Human Variables)
i.     Mengubah varabel structural (Altering the Structural Variables)
j.     Mengidentifikasi musuh bersama (Indetifying a Common Enemy)

Serta terdapat beberapa strategi dalam menangani dan menyelesaikan konflik, yaitu:
a.    Menghindar
Menghindari konflik dapat dilakukan jika masalah yang memicu konflik tidak terlalu penting. Penghindaran merupakan strategi yang memungkinkan pihak-pihak yang berkonfrontasi untuk menenangkan diri.
b.    Mengakomodasi
Memberi kesempatan pada orang lain untuk mengatur strategi pemecahan masalah, khususnya apabila isu tersebut penting bagi orang lain. Hal ini memungkinkan timbulnya kerjasama dengan memberi kesempatan pada mereka untuk membuat keputusan.
c.    Kompromi atau Negosiasi
Masing-masing memberikan dan menawarkan sesuatu pada waktu yang bersamaan, saling memberi dan menerima, serta meminimalkan kekurangan semua pihak yang dapat menguntungkan semua pihak.
d.   Memecahkan Masalah atau Kolaborasi
Pemecahan sama-sama menang dimana individu yang terlibat mempunyai tujuan kerja yang sama, perlu adanya satu komitmen dari semua pihak yang terlibat untuk saling mendukung dan saling memperhatikan satu sama lainnya.

Sumber :



Minggu, 11 Januari 2015

CONTROL DALAM MANAGEMENT



OKTIVIANI
3 PA 08
15512588

DEFINISI CONTROL DALAM MANAGEMENT

Control (Pengendalian) merupakan salah satu fungsi manajerial seperti perencanaan, pengorganisasian, pengaturan staff, dan mengarahkan. Mengendalikan merupakan fungsi penting karena membantu untuk memeriksa kesalahan dan mengambil tindakan korektif sehingga meminimalkan penyimpangan dari standar dan mengatakan bahwa tujuan organisasi telah tercapai dengan cara yang baik.

Menurut Robert J. Mockler, control dalam management merupakan upaya sistematis oleh manajemen bisnis untuk membandingkan kinerja dengan standar yang telah ditentukan, rencana, atau tujuan untuk menentukan apakah kinerja sejalan dengan standar tersebut dan mungkin untuk mengambil tindakan perbaikan yang diperlukan untuk melihat bahwa manusia dan sumber daya perusahaan lainnya yang digunakan dengan cara yang paling efektif dan efisien mungkin dalam mencapai tujuan perusahaan.

TUJUAN ADANYA CONTROL (PENGENDALIAN)

Tujuan utama dari pengendalian adalah untuk mencegah adanya penyimpangan atau setidaknya memperkecil kesalahan yang mungkin akan terjadi. Sehingga tujuan yang telah ditetapkan  dapat tercapai dengan baik.

ELEMEN DASAR DALAM SISTEM PENGENDALIAN

1.     Karakteristik atau kondisi yang akan dikontrol
Karakteristik berupa output dari sistem dalam tahap pemrosesan atau  suatu kondisi yang merupakan hasil dari sistem.
2.    Sensor
Sarana untuk mengukur karakteristik atau kondisi. Sebagai contoh dalam sistem kontrol pengukuran kualitas dapat diandaikan oleh inspeksi visual dari produk.
3.    Komparator
Menentukan kebutuhan koreksi dengan membandingkan apa yang terjadi dengan apa yang telah direncanakan. Beberapa penyimpangan dari rencana adalah biasa dan diharapkan, tetapi ketika berada di luar variasi yang dapat diterima tindakan korektif diperlukan. Ini melibatkan semacam tindakan pencegahan yang menunjukkan bahwa kontrol yang baik sedang dicapai.
4.    Aktivator
Tindakan korektif untuk mengembalikan sistem ke output yang diharapkan. Contohnya adalah seorang karyawan diarahkan ulang untuk bagian-bagian yang gagal lulus pemeriksaan mutu. Selama rencana dilakukan dalam batas-batas yang diijinkan tindakan korektif tidak diperlukan.

PRINSIP-PRINSIP PENGENDALIAN

1.     Pengawasan yang dilakukan oleh pimpinan harus dimengerti oleh staf dan hasilnya mudah diukur. Misalnya tentang waktu dan tugas-tugas pokok yang harus diselesaikan oleh staf.
2.    Fungsi pengawasan harus difahami pimpinan sebagai suatu kegiatan yang sangat penting dalam upaya mencapai tujuan organisasi.
3.    Standar unjuk kerja harus dijelaskan kepada seluruh staf karena kinerja staf akan terus dinilai oleh pimpinan sebagai pertimbangan untuk memberikan reward kepada mereka yang dianggap mampu bekerja.

MANFAAT PENGENDALIAN DALAM MANAGEMENT

a)    Dapat mengetahui sejauh mana program sudah dilakukan oleh staf, apakah sesuai dengan standar atau rencana kerja, apakah sumberdaya telah digunakan sesuai dengan yang telah ditetapkan.
b)   Dapat mengetahui adanya penyimpangan pada pemahaman staf dalam melaksanakan tugas-tugasnya.
c)    Dapat mengetahui apakah waktu dan sumber daya lainnya mencukupi kebutuhan dan telah dimanfaatkan secara efisien.
d)   Dapat mengetahui sebab-sebab terjadinya penyimpangan.
e)   Dapat mengetahui staf yang perlu diberikan penghargaan, dipromosikan atau diberikan pelatihan lanjutan.

PENTINGNYA PENGENDALIAN DALAM SEBUAH MANAGEMENT
 
1.     Perubahan lingkungan organisasi
Berbagai perubahan lingkungan organisasi yang terjadi terus-menerus dan tak dapat dihindari, seperti munculnya inovasi produk dan pesaing baru maka melalui pengawasan lah dapat mendeteksi perubahan yang berpengaruh pada barang dan jasa organisasi sehingga mampu menghadapi tantangan atau memanfaatkan kesempatan yang diciptakan perubahan yang terjadi.
2.    Peningkatan kompleksitas organisasi
Semakin besar organisasi, makin memerlukan pengawasan yang lebih formal dan hati-hati. Berbagai jenis produk harus diawasi untuk menjamin kualitas dan profitabilitas tetap terjaga. Semuanya memerlukan pelaksanaan fungsi pengawasan dengan lebih efisien dan efektif.
3.    Meminimalisasikan tingginya kesalahan-kesalahan
Bila para bawahan tidak membuat kesalahan, manajer dapat secara sederhana melakukan fungsi pengawasan. Tetapi kebanyakan anggota organisasi sering membuat kesalahan. Sistem pengawasan memungkinkan manajer mendeteksi kesalahan tersebut sebelum menjadi kritis.
4.    Kebutuhan manager untuk mendelegasikan wewenang
Bila manajer mendelegasikan wewenang kepada bawahannya tanggung jawab atasan itu sendiri tidak berkurang. Satu-satunya cara manajer dapat menen-tukan apakah bawahan telah melakukan tugasnya adalah dengan mengimplementasikan sistem penga-wasan.
5.    Menilai informasi dan mengambil tindakan koreksi
Langkah terakhir adalah pembandingan penunjuk dengan standar, penentuan apakah tindakan koreksi perlu diambil dan kemudian pengambilan tindakan.

Jadi suatu organisasi akan berjalan semakin baik dari waktu ke waktu bila setiap orang yang bersangkutan dapat mengevaluasi atas hasil kegiatan yang telah dilakukan, inilah yang membuat fungsi pengendalian atau pengawasan semakin penting dalam setiap organisasi. Tanpa adanya pengendalian atau pengawasan yang baik tentunya akan menghasilkan tujuan yang kurang memuaskan, baik bagi organisasinya itu sendiri maupun bagi para pekerjanya.

Sumber     :

Richard Arvid Johnson (1976). Management, systems, and society : an introduction. Pacific Palisades, Calif.: Goodyear Pub. Co. pp. 148–142. Dari: http://en.wikipedia.org/wiki/Control_%28management%29, 24 November 2013

Samuel Eilon (1979). Management control. Boston, Mass.: Harvard Business School Press. Dari: http://en.wikipedia.org/wiki/Control_%28management%29, 24 November 2013


 

Oktiviani Copyright © 2011 Girl Music is Designed by Ipietoon Sponsored by web hosting